Kekeliruan Memandang Sistem Ekonomi
oleh: Hidayatullah Muttaqin
Dalam teori ekonomi (konvensional) yang diajarkan di Fakultas Ekonomi, mahasiswa dibimbing agar hanya memahami dua sistem ekonomi yakni Kapitalisme (S.E. Pasar) dan Sosialisme (S.E. Komando). Sejak Great Depression 1929 yang menimpa AS, S.E. Pasar dianggap gagal. Paska PD II, banyak negara yang kemudian mengadopsi intervensi negara seperti subsidi & jaminan sosial. Sehingga kemudian dipandang tidak ada lagi negara yang menerapkan Kapitalisme murni dan Sosialisme/Komunisme murni. S.E. yang ketiga (di luar 2 sistem tsb) adalah S.E. Campuran.
S.E. Campuran adalah mengadopsi sebagian dari Kapitalisme dan sebagian dari Sosialisme. Yang membedakannya hanyalah tingkat kecondongan apakah ke kanan (Kapitalis) ataukah ke kiri (Sosialis).
Kerangka berpikir hanya ada S.E. Kapitalisme dan Sosialisme, dan di luar itu hanya ada S.E. Campuran, adalah sebuah “jebakan berpikir”. Sebab tidak ada yang namanya S.E. Campuran. Mahasiswa dijebak berpikir secara Kapitalis tanpa mereka pahami bahwa mereka sedang mempelajari Kapitalisme.
Dalam sebuah ideologi, lebih khusus lagi dalam suatu pemikiran ekonomi, dimungkinkan terdapat perbedaan aliran (mazhab) sebagaimana adanya mazhab fiqh di dalam Islam. Begitu pula di dalam Kapitalisme ada berbagai mazhab pemikiran ekonomi, dan yang paling populer adalah mazhab liberalnya Adam Smith dan mazhab Keynesian.
Apa yang dimaksud S.E. Pasar sebelum Great Depression adalah S.E. Kapitalis yang didominasi konsep Liberalisme Adam Smith. Sedangkan apa yang dimaksud dengan S.E. Campuran paska Perang Dunia II adalah S.E. Kapitalis yang didominasi konsep ekonomi Keynes yang sarat intervensi negara atau biasa juga disebut BIG GOVERNMENT.
Adapun saat ini dikenal luas istilah NEOLIBERALISME. Neoliberalisme merupakan liberalisme gaya baru. Dalam perspektif S.E., Neoliberalisme tidak dapat dipisahkan dari Liberalisme ekonomi Adam Smith, karena dari sinilah akar pemikiran liberal Neoliberalisme.
Sejak 1970-an negara-negara besar mulai beralih dari mazhab ekonomi Keynesian ke Neoliberalisme yang digagas oleh Milton Friedman dan Hayek. Pelapor penerapan Neoliberalisme ini adalah pemerintahan Presiden AS Ronald Reagen dan Perdana Menteri Inggris Margaret Teacher. Neoliberalisme menyebar ke seluruh dunia melalui program penyesuaian struktural yang disyaratkan IMF, Bank Dunia, ADB, USAID. Neoliberalisme semakin besar setelah digelindingkan dalam bentuk “globalisasi” dan berdirinya WTO.
Dari sisi “kadar” liberal, Neoliberalisme jauh lebih liberal dibandingkan liberalisme ekonomi Adam Smith atau yang biasa disebut S.E. Pasar murni. Meskipun lebih liberal, bukan berarti Neoliberalisme mengharamkan intervensi negara sebagaimana pendapat Adam Smith. Hanya saja intervensi tersebut diarahkan untuk kepentingan korporat atau pemilik modal.
Dalam perspektif ini, negara yang mengadopsi Neoliberalisme kerap melakukan kebijakan “tangan besi” dalam merealisasikan liberalisasi ekonomi. Bahkan tidak jarang, kehadiran Neoliberalisme di dunia ketiga merupakan hasil selingkuh dengan suatu diktator sebagaimana selingkuh Chicago Boys dengan Diktator Chile Augusto Picnochet.
Di samping itu, tingkat resistensi rakyat terhadap implimentasi kebijakan Neolib sangat tinggi sehingga kebijakan Neoliberal biasanya disertai dengan modifikasi istilah atau sesuatu hal yang mengkaburkan fakta telah dilakukannya liberalisasi ekonomi. Misalnya, privatisasi yang sejatinya adalah pemindahan kepemilikan dari negara/publik ke sektor swasta dimaknai sebagai “perluasan kepemilikan masyarakat”. Atau BLT dan PNPM Mandiri disebut sebagai intervensi pemerintah untuk melindungi masyarakat, sebenarnya merupakan sebuah program “berlepas tangan” pemerintah terhadap rakyatnya. Inilah yang menjadi alasan Menteri Keuangan Sri Mulyani, bahwa Indonesia tidak menjalankan Neoliberalisme atau pun Kapitalisme.
Big Governmentnya Keynesian merupakan antitesis untuk mazhab Kapitalismenya Adam Smith. Sedangkan Neoliberalisme merupakan antitesis bagi mazhab Kapitalismenya Keynes. Kini banyak negara yang dipelapori Amerika Serikat melakukan intervensi besar-besaran ke dalam pasar dan perekonomiannya, maka ini merupakan antitesis terhadap mazhab Neoliberalisme. Semuanya masih ke dalam format Kapitalisme yang memiliki asas sekuler dan mengusung liberalisme dalam kehidupan.
Jadi tidak ada yang namanya Sistem Ekonomi Campuran. Berbeda mazhab bukan berarti berbeda ideologi dan sistem ekonomi. Semuanya masih Kapitalime. [Blog.muttaqin.info]
Random Posts
![]()
Tags: Sistem Ekonomi


