Jati Diri Bangsa, Nyata atau Khayal?
Bicara “jati diri bangsa”, apakah bangsa Indonesia punya jati diri?
Pertama, siapa yang disebut “bangsa Indonesia”? Berdasarkan raskah? Berdasarkan rumpun kah? Berdasarkan sukukah? Berdasarkan bahasakah? Berdasarkan warna kulitkah? Semuanya tidak cocok. Ternyata Indonesia lahir berdasarkan wilayah jajahan Belanda, bukan berdasar ras, rumpun, suku, bahasa, dan warna kulit. Jadi masalah ini saja tidak jelas jati dirinya.
Kedua, ide tentang kebangsaan atau nasionalisme adalah ide yang kemampuannya sangat lemah mengikat persatuan dan keistiqomahan pada tujuan. Para pejuang sejak dulu hingga kemerdekaan sebagian besar adalah muslim. Dan mereka berjuang bukan karena nasionalisme, tetapi pekik Allahu Akbar. Aqidah Islam-lah yang menggerakkan mereka.
Namun begitu sudah dalam bentuk institusi yang diterapkan justru sekat kebangsaan dengan mengadopsi sistem Barat. Kemudian, justru muncul para penghianat-penghianat negara dan penindas rakyat yang menjual negerinya kepada asing.
Ketiga, karena itu dalam standar dan tata aturan yang diterapkan negara justru berasal dari “jati diri Barat” yang kita semua mengetahui, mereka adalah bangsa-bangsa penjajah. Hingga saat ini, dalam urusan politik, hukum, ekonomi, pendidikan, budaya, dan kemasyarakatan, justru nilai-nilai sekuler dari Barat yang menjadi standar dan karakter para pemimpin. Sementara rakyat semakin tidak jelas arah hidupnya,dan lari ke standar perut.
Jadi pada saat malam ini kandidat calon wakil presiden bicara jati diri bangsa seperti sedang menegakkan benang basah. Khayal, jauh dari kenyataan. []
Ditulis sambil mendengarkan Debat CaWapres 23/6/2009,
Muttaqin
http://blog.muttaqin.info
Random Posts
![]()
Tags: Jati Diri Bangsa


