Di Balik Terorisme Ada Benturan Peradaban
POLITIK GLOBAL
Oleh Hidayatullah Muttaqin
Saat ini, terorisme menjadi topik dominan perbincangan nasional. Termasuk di dalamnya pengkaitan secara serampangan bahwa tindakan terorisme muncul dari orang-orang dan organisasi yang mengusung radikalisme.
Sedangkan yang dimaksud radikalisme pun dengan serampangan ditonjokkan kepada kaum Muslim yang memperjuangkan tegaknya Syariah dan Khilafah. Lalu dibuatlah generalisasi, tindakan terorisme erat kaitannya dengan penegakkan Syariah dan Khilafah.
Fitnah Keji Terorisme
“Nasi memang telah menjadi bubur.” Wajah Islam kembali dicoret-coret dengan fitnah keji. Bahkan, secara sistematis sejumlah media melalui narasumber-narasumber tertentu membuat ulasan yang sifatnya menghakimi ide Syariah dan Khilafah yang “menelorkan” kaum teroris. Dan tanpa memiliki “kapasitas” untuk berbicara tentang Islam, media-media dan para narasumber tersebut memberikan penjelasan kepada umat tentang bagaimana Islam sebenarnya (tentu saja “sebenarnya” menurut Sekularisme).
Sebagai seorang Muslim, tentu saya sangat mempertanyakan mengapa ada individu dan gerakan yang diopinikan mengatasnamakan Islam melakukan tindakan teroris terhadap umat islam sendiri? Jelas ini bertentangan dengan Syariah, bahwa seorang muslim tidak boleh menakut-nakuti muslim lainnya. Juga di dalam melakukan perubahan di tengah masyarakat tidak boleh dengan cara kekerasan (violence) ) melainkan melalui jalan dakwah siyasi.
Juga saya sangat mempertanyakan, mengapa hal ini terjadi berulang-ulang dengan kerugian yang tidak sedikit bagi umat Islam khususnya datangnya fitnah yang bertubi-tubi.
Terlepas siapa pun pelaku sebenarnya, adanya keberadaan aksi mereka menjadi senjata dan alasan bagi Barat untuk mencampuri urusan dalam negeri Indonesia. Termasuk menekan dan menghalang-halangi upaya pembangunan kesadaran umat atas Syariat Islam.
Dalam konteks kepentingan Barat inilah, aksi terorisme di Indonesia erat sekali kaitannya dengan benturan peradaban.
Benturan Peradaban
Pada tahun 1990-an, Samuel P. Huntington mengeluarkan sebuah tesis tentang benturan peradaban (The Clash of Civilization). Menurut Huntington, Islam memiliki potensi besar menggoncang peradaban Barat (Sekularisme-Kapitalisme). Karena itu Barat harus memberikan perhatian khusus terhadap Islam.
Benturan peradaban sejak zaman dulu (era Perang Salib) hingga sekarang merupakan sebuah keniscayaan. Invasi Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Irak dan Afghanistan, rekayasa atas permasalahan Darfur di Sudan dan kasus Somalia, tekanan pemberantasan terorisme di Pakistan dan Indonesia, serta penyebaran nilai-nilai Barat (Sekularisme dan Liberalisme) di dunia Islam adalah petunjuk yang jelas terjadinya Clash of Civilization.
Dalam konteks kejayaan sebuah peradaban, peradaban Barat saat ini sedang memegang hegemoni dunia. Sedangkan peradaban Islam belum terwujud dalam sebuah institusi (khilafah).
Meskipun peradaban Barat sedang menikmati hegemoninya, peradaban ini sudah menggelinding dari puncak yang ditandai oleh “tamparan” krisis ekonomi dan keuangan, kerusakan tatanan sosial masyarakat, kebejatan moral, dan semakin banyak penduduk dunia yang membenci Kapitalisme.
Di sisi yang lain meski belum mewujud ke dalam institusi, peradaban Islam telah menunjukkan sinyal kebangkitannya. Hampir di seluruh dunia Islam, bahkan di jantung Kapitalisme sendiri seruan ditegakkannya kekhalifahan Islam di muka bumi semakin bergema. Perlawanan-perlawanan pemikiran pun dilakukan kaum Muslimin untuk mengikis paham sesat yang datang dari peradaban Barat dan membongkar kejahatan negara-negara Kapitalis di hadapan umat. Jelaslah saat ini sedang terjadi pergumulan ide di tengah-tengah umat.
Ketidaksukaan Barat tercermin dari pernyataan-pernyata para pemimpin mereka. Misalnya mantan Presiden Amerika Serikat, George W. Bush yang sudah membayangkan ketakutannya akan kembalinya Islam dalam wujud institusi yang terbentang dari Spanyol hingga Indonesia. Ia mengatakan: “The militants believe that controlling one country will rally the Muslim masses, enabling them to overthrow all moderate government in the region, and establish a radical Islamic empire that span from Spain to Indonesia.” [Washington Post (6/10/2005), Transcript: Bush Discusses War on Terrorism]
Sementara itu, mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair menyebut ajaran Islam tentang jihad dan kesatuan umat (Khilafah) sebagai ideologi syetan (the ideology of evil) [Hizb ut-Tahrir Britain (14/07/2005), What is the ‘ideology of evil’ that Blair wishes to uproot?]. Sedangkan mantan Menteri Dalam Negeri Inggris, Charles Clarke menekankan tidak boleh ada negosiasi penciptaan kembali sistem Khilafah dan tidak boleh ada negosiasi dalam implimentasi hukum Syariah [Heritage Foundation (21/10/2005), Contesting the Threat of Terrorism].
Dari statemen para pemimpin Barat tersebut, “kata kunci” yang membuat Barat ketakutan terhadap Islam adalah kembalinya Syariah dan Khilafah di tengah-tengah kaum Muslimin. Bagi Barat tidak ada negosiasi sedikitpun untuk memberikan ruang kesempatan tegaknya sistem Islam di muka bumi.
Dalam pandangan mereka, adalah sangat membahayakan jika lengah dari setiap langkah kaum Muslim menuju tegaknya institusi Islam. Apalagi saat ini Kapitalisme tengah memasuki era kemunduran yang luar biasa.
Karena itu tidak aneh jika sekarang datang fitnah keji secara beruntun terhadap kaum Muslimin. Bahwa terorisme merupakan perilaku-perilaku jahat yang datang dari para pengemban ide Khilafah dan Syariah. Hal ini tidak ada bedanya dengan fitnah Blair terhadap ideologi Islam sebagai ideologi setan. Tentu saja desain akhir dari fitnah keji ini adalah agar umat Islam tidak percaya dan membenci Syariah dan Khilafah beserta para pejuangnya.
Kesimpulan
Terorisme merupakan rekayasa Barat untuk memfitnah Islam dan kaum Muslimin sehingga mereka memiliki ruang untuk memukul kebangkitan peradaban Islam dan mencegah kejatuhan peradaban mereka. Barat telah menjadikan terorisme sebagai senjata untuk memerangi kaum Muslimin di samping senjata-senjata konvensional yang mereka gunakan di Irak, Afghanistan, dan Pakistan. Inilah yang terjadi di balik fitnah keji terorisme. [JURNAL MUTTAQIN --> http://blog.muttaqin.info]
Tulisan terkait
![]()
Tags: Benturan Peradaban, Clash of Civilization, Politik Global, Terorisme




October 7th, 2009 at 8:30 am
memang benar benturan semacam ini tak terhindarkan karena hegemoni monokultur barat akan didobrak setelah pelecehan civilization mayoritas dengan mengkonstruksi logosentrisme yang mengarahkan pola pikir masyarakat dunia kepada kebenaran tunggal versi barat…..minoritas akan bangkit menuntut keadilannya dengan segala cara